banner 728x250

Aktivis Soroti Alat Deteksi di Lapas Narkotika Muara Beliti Rusak: Jangan Tunggu Insiden Baru Bertindak

Alat Deteksi Tidak Optimal, Kekurangan Personel Juga Disorot. LAKI-P45 Minta Ditjen Imigrasi dan Pemasyarakatan Segera Turun Tangan

MUSIRAWAS EKSPRES.COM, MUSI RAWAS – Laskar Anti Korupsi Pejuang 45 (LAKI-P45) menyoroti kondisi sarana dan prasarana pengamanan di Lapas Narkotika Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, khususnya terkait alat deteksi yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan terhadap pengunjung maupun tamu yang masuk ke lingkungan lapas.

Berdasarkan informasi yang diterima LAKI-P45, salah satu alat deteksi yang ada saat ini, termasuk perangkat metal detector/alat deteksi yang terlihat pada lokasi, disebut dalam kondisi rusak sehingga tidak dapat digunakan secara optimal. Di sisi lain, masih terdapat keterbatasan alat deteksi lainnya untuk mendukung sistem pengamanan.

Kondisi tersebut dinilai tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Lapas merupakan objek dengan tingkat kerawanan keamanan yang membutuhkan sistem pemeriksaan berlapis, terutama terhadap setiap orang yang keluar-masuk lingkungan pemasyarakatan.

Ketua LAKI-P45 Sumatera Selatan, Ahlul Fajri, mengatakan bahwa kelengkapan alat pengamanan bukan sekadar persoalan fasilitas, tetapi merupakan bagian penting dari upaya mencegah masuknya barang-barang yang dilarang maupun potensi gangguan keamanan ke dalam lapas.

“Kalau alat deteksi rusak dan jumlah alat pemeriksaan tidak mencukupi, tentu harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai kita baru bergerak setelah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” tegas Ahlul Fajri.

Menurut LAKI-P45, pemeriksaan terhadap pengunjung, keluarga warga binaan, maupun tamu lainnya harus didukung perangkat yang memadai sehingga petugas dapat menjalankan tugas secara maksimal.

Jangan Tunggu Terjadi Insiden

LAKI-P45 meminta Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Direktorat Jenderal Imigrasi dan Pemasyarakatan, serta instansi terkait segera melakukan evaluasi terhadap kebutuhan sarana pengamanan di Lapas Narkotika Muara Beliti.

kondisi seluruh metal detector dan alat deteksi lainnya

Jumlah alat yang tersedia dan yang masih berfungsi

kebutuhan alat deteksi tambahan

kebutuhan peralatan pemeriksaan pengunjung

kebutuhan peningkatan sistem keamanan

serta kecukupan jumlah petugas pengamanan.

“Kami meminta agar kebutuhan alat deteksi ini dimasukkan dalam perencanaan dan penganggaran secara serius. Ini bukan permintaan untuk kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk menunjang keamanan dan keselamatan,” ujar Ahlul Fajri.

LAKI-P45 juga mendorong Komisi terkait di DPR RI sebagai mitra kerja Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk memberikan perhatian terhadap kebutuhan anggaran sarana-prasarana keamanan pemasyarakatan, khususnya apabila memang terdapat keterbatasan peralatan di lapangan.

Kekurangan Pegawai yang cukup signifikan Juga Perlu Diperhatikan

Selain persoalan alat deteksi, LAKI-P45 juga memperoleh informasi dari salah seorang pegawai bahwa Lapas Narkotika Muara Beliti masih mengalami kekurangan personel yang cukup banyak.

Informasi tersebut tentunya perlu diverifikasi dan dibandingkan dengan Analisis Beban Kerja (ABK), Analisis Jabatan (Anjab), jumlah warga binaan, pola pengamanan, serta standar kebutuhan petugas yang berlaku.

Namun apabila benar terdapat kekurangan personel, menurut LAKI-P45 hal tersebut juga harus menjadi bagian dari evaluasi.

“Alat pengamanan membutuhkan petugas yang cukup untuk mengoperasikan dan mengawasinya. Jangan sampai sarana kurang, personel juga kurang. Kalau dua-duanya tidak optimal, tentu sistem pengamanan akan menghadapi tantangan yang lebih besar,” kata Ahlul Fajri.

LAKI-P45 meminta agar persoalan tersebut tidak dibebankan kepada petugas lapangan. Sebab, apabila terdapat kekurangan alat maupun personel, penyelesaiannya membutuhkan kebijakan dan dukungan anggaran dari tingkat yang lebih tinggi.

LAKI-P45: Keamanan Lapas Harus Menjadi Prioritas

LAKI-P45 menegaskan bahwa kritik tersebut bukan ditujukan untuk menyudutkan petugas Lapas Narkotika Muara Beliti.

Sebaliknya, menurut LAKI-P45, petugas lapas justru harus diberikan dukungan sarana, prasarana dan jumlah personel yang memadai agar dapat menjalankan tugas secara profesional.

Karena itu, LAKI-P45 meminta pihak berwenang melakukan pengecekan langsung ke lapangan, termasuk memeriksa kondisi alat deteksi yang rusak, menghitung kebutuhan alat tambahan, serta mengevaluasi kecukupan personel.

“Kami tidak ingin mencari kesalahan siapa pun. Kami ingin sistemnya diperbaiki sebelum terjadi masalah. Pencegahan jauh lebih baik daripada penanganan setelah insiden terjadi,” tegas Ahlul Fajri.

LAKI-P45 juga meminta agar hasil evaluasi tersebut dapat ditindaklanjuti secara konkret melalui pengadaan atau perbaikan alat deteksi, pemenuhan kebutuhan personel, serta penguatan sistem pemeriksaan dan pengamanan di Lapas Narkotika Muara Beliti.

LAKI-P45 berharap perhatian pemerintah tidak hanya diberikan ketika persoalan pemasyarakatan sudah menjadi sorotan publik. Kebutuhan keamanan di lapas harus diantisipasi sejak awal, karena satu celah kecil dalam sistem pengamanan dapat berpotensi menimbulkan persoalan yang jauh lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *